Hal yang membatalkan wudhu

1. Keluarnya segala sesuatu dari dua jalan (kubul dan dubur) kecuali air mani .
artinya  apapun bentuknya seperti angin, cairan, dan benda padat sekalipun. jika kita tinjau dari aktivitas bisa dicontohkan seperti kentut,.kencing, darah, buang air besar, dan lain sebagainya.


2. Tidur sambil duduk yang tidak menetap dalam duduknya, yang dimaksud adalah tidur yang posisi pantat tidak tetap. tidur tidak akan membatalkan wudlu selagi tidurnya tersebut dengan cara duduk tegak dan pantat tetap menempel pada lantai.

3.Hilang akal artinya yang dimaksud bisa karena gila atau sakit, atau memakan makanan / minuman yang memabukkan sehingga akalnya hilang,

4. Bersentuhan dengan lawan jenis tanpa penghalang.
menyentuh yang dimaksud adalah dengan menggunkan telapak tangan yang menyentuh kulit perempuan bagi laki-laki atau sebaliknya, kecuali rambut dan gigi.

5. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan tanpa penghalang

6. Menyentuh lingkaran dzubur lingkaran dubur, maksudnya adalah kawasan dekat lubang dubur.

semoga bermanfaat… amin

Syarat Wudhu

Sebelum melaksanakan Berwudhu harus melaksanakan beberapa syarat wudhu sebagai berikut :

1. Islam
Orang yang selain agama Islam tidak di wajibkan untuk ber wudhu karena secara logika buat apa orang kafir atau di luar agama Islam melakukan atau mengambil air wudhu

2. Tamyiz
Arti tamyiz adalah keadaan dimana seorang anak manusia telah mengerti dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya. Usia anak yang telah mencapai tamyiz kira-kira 6-7 tahun. Oleh sebab itu bagi anda yang memiliki anak yang sudah berumur 6-7 tahun segeralah ajarkan dia untuk berwudhu.

3. Bebas dari haid dan nifas
Pada saat haid dan nifas tidak di sarankan bahkan tidak boleh berwudhu karena secara logika buat apa berwudhu karena setelah bewudhu pun tetap dalam keadaan junub dan perempuan yang dalam keadaan nifas dan haid haram hukumnya melakukan hal-hal yang di syaratkan untuk berwudhu terlebih dahulu seperti sahlat

4. tidak ada sesuatu yang bisa menghalangi sampainya air ke kulit.
Di sarankan untuk berhati-hati dengan yang satu ini karena jika ada yang menghalangi datangnya atau sampainya air ke kulit maka terhitung tidak menyentuh kulit dan jika salah satu yang fardhu tidak dilaksanakan maka wudhu tersebut tidak sah. Contoh yang dapat menghalangi adalah beberapa jenis tinta, minyak cat dan banyak lagi

5. Tidak boleh ada sesuatu pun yang melekat pada badan yang sekiranya dapat merubah air.
Dalam hal ini contohnya minyak atau cat pewarna cair yang dapat merubah kondisi air akibat percampurannya.

6. Harus tahu kefardhuan wudhu (mana yang fardhu dan mana yang tidak).
Ini sangat penting karena jika salah satu kefarduan tidak di laksanakan, itu berarti tidak melakukan wudhu atau wudhunya tidak sah.

7. Tidak boleh mengi'tikadkan/menganggap satu perbuatan yang fardhu diantara fardhu-fardhu wudhu dianggap sunah. 
Tetapi menganggap sunah sebagai fardhu masih boleh.

8. Harus dengan air yang dapat membersihkan.
Air yang membersihkan adalah air yang suci yang dapat membersihkan dari najis. Tidak untuk air yang telah di campur seperti air kopi atau jus.

9. Harus setelah masuk waktu shalat. 
 Jika wudhu tersebut di maksudkan untuk shalat.

10. Harus terus menerus bagi orang yang selalu hadas (seperti orang yang istihadah)
Bagi anda yang terus menerus mengalami hadas seperti terus menerus buang gas atau kentut atau terus menerus buang air kecil atau kencing sedikit-sedikit maka anda harus terus menerus wudhu sampai beberapa kali dan jika kentut atau kencing itu tidak kunjung berhenti maka sahabat boleh shalat dengan keadaan tersebut dengan syarat bahwa wudhu yang telah dilakukan hanya untuk satu kali shalat 

Syarat-syarat Shalat

Yaitu syarat-syarat yang harus terpenuhi sebelum shalat (terkecuali niat, yaitu syarat yang ke delapan, maka yang lebih utama dilaksanakan bersamaan dengan takbir) dan wajib bagi orang yang shalat untuk memenuhi syarat-syarat itu. Apabila ada salah satu syarat yang ditinggalkan, maka shalatnya batal.
Adapun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut: 

1. Islam; Maka tidak sah shalat yang dilakukan oleh orang kafir, dan tidak diterima. Begitu pula halnya semua amalan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu untuk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka." (At-Taubah: 17) 

2. Berakal Sehat; Maka tidaklah wajib shalat itu bagi orang gila, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

"Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari'at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh." (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

 
3. Baligh; Maka, tidaklah wajib shalat itu bagi anak kecil sampai dia baligh, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Akan tetapi anak kecil itu hendaknya dipe-rintahkan untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun dan shalatnya itu sunnah baginya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

"Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya." (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih

4. Suci Dari Hadats Kecil dan Hadats Besar; Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah." (Al-Maidah: 6)
 
Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
"Allah tidak akan menerima shalat yang tanpadisertai bersuci". (HR. Muslim) 

5. Suci Badan, Pakaian dan Tempat Untuk Shalat ; Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah:

"Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan."
(Al-Muddatstsir: 4)
 
Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:

"Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, 'Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan." (HR. Al-Bukhari). 

6. Masuk Waktu Shalat ; Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang diten-tukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa': 103)
Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat Jibril  pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril  mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemu-dian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam: "Di antara keduanya itu adalah waktu shalat." 

7. Menutup aurat; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid." (Al-A'raf: 31)
Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah. 

8. Niat ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
"Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan men-dapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
 
9. Menghadap Kiblat ; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya." (Al-Baqarah: 144)